Terbayang materi kelas ADR yang pernah aku ikutin dulu waktu menyiapkan bahan negosiasi untuk mewakili kantor. Mencoba memrefresh berbagai tahapan dan persiapan yang dibutuhkan dan data-data yang penting untuk perdebatan dalam negosiasi. Setumpuk berkas telah siap dimasukan ke tas, tiket sudah ditangan (meskipun ntah kapan di reimburse oleh kantor) berangkatlah ke Surabaya dengan berbagai alternative scenario dan fallback position.
Baik dikantor maupun dikampus dulu kala, aku banyak dikenal sebagai tukang merusak forum dan mengarahkan ke hasil yang aku inginkan, baik secara intuisi maupun terskenario secara apik. Namun itu dulu, entah kenapa beberapa tahun belakangan, keganasan itu telah memudar atau mungkin terkelola lebih baik dan aku merasa lebih lunak dan lebih bersedia menerima perspektif yang berbeda.
Kembali ke meja perundingan, setelah semua pihak berkumpul, maka negosiasi mulai dibuka. Seperti dugaan awal, posisi masing-masing pihak saling menyerang. Konsentrasi sedikit terbagi-bagi, sebagian untuk tetap mengikuti setiap dalil-dalil yang disampaikan oleh para pihak, sebagian lainnya mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Memori perkuliahan sempat terlintas, bagaimana menyusun dalil dan menyampaikannya secara apik dan dokumen di tas yang ditaruh dekat kaki sudah siap digunakan. Namun urung semua niat yang terlintas, terbendung oleh kondisi yang semakin meruncing. Sebagai orang yang diajarkan untuk terus ngotot dan mencari celah omongan lawan, sepertinya akan dengan mudah mematahkan dalil-dalil lawan. Hak dan aturan yang ada sudah jelas dan posisi sangat kuat di pihakku, tapi itu yang membuat kondisi semakin meruncing dan ujung perdamaian semakin jauh. Apakah ini akan diakhiri dengan perdamaian atau akankah berakhir dengan sengketa yang berkepanjangan? Jika kita tetap bertahan pada dalil masing-masing, mungkin saja perlu pengadilan yang memutuskan siapa yang benar (secara formil). Dan buat apa ada negosiasi??win-win solution hanya sekedar teori, mungkin karena setting negosiasinya kurang pas, atau kita yang belum lihai memainkan data-data. Menutup sesi dengan break untuk sedikit meredakan ketegangan adalah ide yang aku usulkan untuk sekedar memikirkan lebih jernih akan kemana hasil dari negosiasi ini. Dan syukur lah ide ini diterima, ada waktu sekitar 15 menit untuk sekedar mengisap rokok dan memesan kopi hangat.
Sesi berlanjut dengan suasana yang tidak jauh berbeda namun dengan pemahaman yang agak lain dari masing-masing pihak. Membicarakan kebenaran individu tidak akan mempercepat penyelesaian negosiasi. dari salah satu buku referensi, kondisi ini memang diharapkan dan digunakan untuk menciptakan keterdesakan pihak lawan agar dengan buru-buru dan tanpa kehati-hatian menyetujui hasil negosiasi tapi tidak denganku. Untuk sebuah pertimbangan lain maka negosiasi harus tercapai dengan hasil damai hari ini. Dan konsekuensinya, tidak ada lagi perbincangan benar salah dan pengungkapan dalil-dalil yang begitu banyak dari masing-masing pihak. Mungkin juga karena ada nuansa bisnis disini, maka ketika diajak bicara tentang berapa nilai yang disepakati oleh masing-masing pihak semua dapat memahami dan mencoba mengajukan nilai yang dapat mereka terima sebagai solusi . menjelang senja, angka telah ditemukan tanpa perlu tau apa rumus dibalik angka tersebut. Mungkin saja rumus masing-masing pihak beda, tapi itu tidak menjadi soal. Yang penting angka disetujui oleh semua pihak, itu yang utama. Dan negosiasi berakhir. Selebihnya sekedar tugas tambahan untuk mendraft nota kesepahaman/perdamaian dan pertemuan ditutup dengan seremonia perdamaian.
Bottom-line, bagaimanapun banyak perspektif yang dapat diangkat, tapi aku ingin menyadari bahwa mungkin perdamaian dapat dicapai dengan melupakan nilai-nilai individu dan tidak mempertentangkanya. Dan pemahaman ini sangat tidak dapat digeneralisir untuk kasus-kasus lainnya. Ini pelajaran yang mungkin belum pernah saya sadari sebelumnya. Dunia yang selama ini aku kenal adalah hitam – putih – abu-abu. Dengan garis massive diantaranya. Bukan gradasi yang halus tanpa memunculkan ketegasan batas-batas.
December 13th, 2008 at 12:29 pm
Woh, masukan yang enak… nyussss masuk om….
ada nih reflect js, search aja di google banyak :p
http://cow.neondragon.net/stuff/reflection/
ada atu lagi, tp lupa. kalo file e ada di rumah e, berhubung lg dikantor kpn2 ku kirim
December 17th, 2008 at 5:43 am
akhirnya muncul juga…
btw gossip yg di bilang catur beneran ‘ru?
salam,
narbo.#
December 17th, 2008 at 5:46 am
di dunia asuransi ADR malah seringnya jadi kompromi kedua belah pihak.
salam,
nobar.#