belom selesai bantu kawan urus jual-beli tanah yang sudah mati masa hak pakainya eh masuk telepon dari kawan lain yang menanyakan bagaimana ngurus fatwa waris untuk blokir tanah bapaknya yang akan dijual oleh ibu tirinya.dulu gak mo terlibat dalam perkuliahan perdata, karena ruwet, tapi ternyata sekarang aku malah jadi inhouse lawyer (bukan lawyer yang diatur seperti di UU nomor 18 tahun 2003 tentang Advokad lho yah) di kantorku dan ngurusin perdata. dulu pernah pengen jadi pengacara tapi kuatir dengan idealisme yang akan terkikis oleh dollar dan sekarang malah harus ngurus gugat-mengugat di pengadilan dan negosiasi diluar pengadilan. untungnya istriku sangat bisa diandalkan untuk memberikan pertimbangan dan solusi ataupun sekedar partner diskusi (dengan tanpa ketinggalan acara debat dan ngotot2an) dibidang perdata-corporate-pertanahan-perkawinan. maklum dia mang legal officer di perbankan dan alumnus Program kenotariat&Magister Kenotariatan UGM (gile dua kali sekolah S2…gak bosen pah???). dari 2 masalah hukum tadi, ada yang bikin nyesek, bukan nyesek karena gak mo serius kuliah dulu tapi karena ternyata ada masalah komunikasi dan kemampuan untuk meyakinkan orang (non hukum) yang kebetulan lebih tua bahwa apa yang mereka jalanin itu belum kuat atau bahkan salah dari sisi prosedur dan hukum. hal ini pun yang menambah kuat kesadaran selama ini bahwa komunikasi (mendeliver pesan-pesan/pikiran) perlu banget. orang pasti tidak mau ribet, tapi bukan berarti jalan pintas yang sesat yang diambil.disamping itu, sepertinya mang orang hukum juga lah kadang menghancurkan hukum itu sendiri. sedih banget. bagaimana bisa di percaya orang sebagai pilar negara jika pilarnya itu sendiri cuma kumpulan serpihan kayu yang masing-masing cuilannya gak ada yang mau bersatu. bahkan saling melepaskan diri. atau kah memang itu tugas orang hukum, memberikan alternatif hukum. alternatif hukum seh sebetulnya wajar-wajar saja, yang agak kurang ajar tuh kalau alternatif yang ditawarkan sudah bablas jadi solusi yang merusak. mang tipis bedanya. mang semuanya dikembalikan lagi pada niat dan jiwa (semangat/spirit) dari pemberian alternatif tersebut. bayangkan, bapak bismar siregar dulu pernah menganalogikan keperawanan seorang wanita sebagai benda yang perlu ijin (kerelaan) untuk mengambilnya (dalam yurispruden dapat diketahui bahwa putusan seperti itu tidak tepat asas). bandingkan dengan solusi hukum menghilangkan nama seorang ahli waris (biar gak ribet) dari daftar ahli waris agar dapat menjual tanah dengan segera. ntah status perkawinan yang dihilangkan di KTP jakarta pusat dan buku nikah edisi tanpa status perkawinan terdahulu. mungkin terlalu ekstrem kedua contoh tersebut disandingkan, tapi dengan tingkat ke-ekstrem-an tersebut agak lebih jelas arti sebuah spirit dalam memberikan alternatif hukum. ah…kuliah aja gak becus…lawyer bukan..advokat bukan….ngerti hukum juga gak…kog banyak komentar…abooooot rek….!!!
4 Responses
Leave a Comment
January 21st, 2009 at 5:58 pm
hahaha..let’s breaking the law boss..
kayak judul lagunya judas priest aja yak..:))
setidaknya kita tidak hidup dari penyimpangan2 tadi pak…:))
salam,
ranob
January 27th, 2009 at 8:00 am
wah sob…klo gitu kita manfaating aja kondisi itu hehehe…
January 29th, 2009 at 12:15 pm
wah top mas
aku biyen jg paling males kuliah hukum perdata. Saiki, yo tetep gak iso he..he..
February 6th, 2009 at 8:38 am
hehehe…sob zen..krn kerjaan menuntut aku ngerti ttg materi perkuliahan dulu kala jadi sekarang harus baca2 buku yang dulu jarang dibaca ;p